Bagikian Artikel ini

Rabu, 12 Januari 2011

ALIRAN-ALIRAN DALAM DUNIA SUFISME

Sebagai sebuah aliran atau semacam ikatan persaudaraan yang mulai ada, pada waktu itu, sufisme memiliki kegiatan yang tak lebih dari rumah pribadi, tempat mengajar atau tempat bekerjanya guru spiritual ….

Pada mula pertama abad ke-Islam-an, pusat kegiatan sufi biasa disebut dengan Khaneqah atau Zawiyya. Sementara itu, orang Turki menyebutnya dengan Tekke. Sedang di Afrika Utara, pusat kegiatan sufi disebut dengan Ribat. Sebuah nama yang juga digunakan untuk mengandaikan makna dari benteng perbatasan pasukan sufi yang berjuang mempertahankan jalan Islam dari gangguan sekelompok orang yang berupaya untuk menghancurkan Islam. Sementara di anak benua India, pusat kegiatan sufi disebut dengan jama’ah khana atau khanegah.
Sebagaimana berbagai sekolah hukum Islam yang bermunculan pada abad-abad pertama setelah Nabi Muhammad wafat dan bermaksud menjelaskan secara langsung aplikasi hukum Islam secara jelas, maka, aliran-aliran ini hendak menjelaskan “suluk” atau langkah sederhana ataupun praktek-praktek penjemihan diri sebelah dalam.

Sebagaimana halnya banyak sekolah-sekolah hukum yang kesohor berhenti penyebarannya (untuk tidak dikatakan berakhir), aliran-aliran sufi besar juga menghadapi situasi yang sama. Selama abad 9 M, dijumpai sekolah-sekolah hukum lebih dari tiga puluh buah, namun kemudian dari jumlah tersebut tinggal lima atau enam buah saja.
Sementara pada perkembangan berikutnya, sekitar abad 12 M, kita kesulitan menghitung jumlah aliran-aliran sufi yang ada. Pasalnya, selain jumlahnya yang sangat banyak, keberadaan mereka juga belum terdefinisikan dengan nama tertentu. Hal ini dapat dimengerti, mengingat sebagian besar master atau guru spiritual maupun sekolah-sekolah hukum yang ada kala itu tidak menginginkan ajaran-ajaran mereka diberi definisi dengan nama tertentu.
Biasanya, adanya interpretasi yang baku ataupun pemberian nama bagi aliran atau sekolah sufi terjadi setelah masa mereka. Tepatnya setelah mereka meninggal dunia. Yang jelas, pemeliharaan kelestarian aliran sufi bukan disebabkan nama, tetapi lebih karena isolasi kelompok mereka secara fisik dari mainstream umat Islam yang ada.
Di bawah ini ada beberapa aliran sufi yang masih ada sampai hari ini, di mana satu sama lain memiliki karakter yang dominan. Para pencari pengetahuan dapat menjadi anggota salah satu atau lebih dari aliran-aliran yang ada di bawah ini. Sebab pada kenyataannya, mereka seringkali mengikuti atau memiliki lebih dari satu guru spiritual.
Berikut ini hanya contoh kecil dari aliran-aliran sufi yang dengan mereka penulis telah memiliki hubungan yang lumayan dekat.
ALIRAN QADIRIYAH
Aliran ini didirikan oleh Syekh Abdr al-Qadir al-Jaelani (1166 M) dari Jaelan, Persia, yang kemudian menetap di Baghdad, Irak. Sepeninggal beliau, aliran ini disebarluaskan oleh anak-anaknya. Pada gilirannya, aliran ini menyebar ke berbagai daerah, termasuk Syiria, Turki, dan berberapa tempat di Afrika, seperti Kamerun, Kongo, Mauritania, Tanzania, Kaukasus, Chechen, dan Ferghana, Uni Sofyet, serta tempat-tempat lain.
ALIRAN RIFA’IYAH
Aliran ini didirikan oleh Syekh Ahmad al-Rifa’i (1182) di Bashrah, kemudian menyebar sampai ke Mesir, Syira, dan baru-baru ini sampai ke Amerika Utara.
ALIRAN SADZILIYAH
Sadziliyah mulai mendapatkan bentuknya yang jelas melalui Syekh Abu al-Hasan al-Sadziliy dari Maroko (1258), dan memperoleh sambutan dari khalayak secara luar biasa. Aliran ini pada masa sekarang dapat dijumpai di Afrika, Mesir, Kenya, Tanzania, Timur Tengah, Srilangka dan tempat-tempat lain, termasuk Amerika Barat dan Utara.
ALIRAN MAULAWIYAH
Aliran ini didirikan oleh Maulana Jalal al-Din Rumi dari Konya, Turki, (1273 M). Pada masa sekarang, aliran ini paling banyak dijumpai di Anatolia, dan baru-baru ini di Amerika Utara. Pengikut aliran ini dikenal sebagai para darwis yang berkelana.
ALIRAN NAQSHABANDIYAH
Nama Naqshabandiyah diambil dari nama pimpinan aliran ini, yakni Bahaud Din Naqshabandi dari Bukhara (1390 M). Aliran ini kemudian menyebar secara luas di Asia Tengah, Volga, Kaukaus Barat dan Timur Daya China, Indonesia, anak benua Indi, Turki, Eropa serta Amerita Utara. Aliran ini adalah satu-satunya aliran sufi yang memiliki geneologi silsilah transmisi “ilmu” melalui pimpinan muslim pertama, yakni Abu Bakar. Bukan seperi aliran-aliran sufi lain yang memiliki geneologi melalui para pemimpin spiritual Syi’ah, Imam Ali, kemudian sampai kepada Nabi.
ALIRAN BEKTASHI
Aliran ini didirikan oleh Haji Bektash dari Khurasan (1338 M). Golongan Syi’ah menerima penuh aliran ini. Namun perkembangan aliran sebatas sampai di Anatolia, Turki, dan masih sangat kuat sampai awal-awal abad 20. Dan para pengikut aliran ini juga dipandang sebagai pengikut Syi’ah.
ALIRAN NI’MATULLAH
Aliran ini didirikan oleh Syekh Nuruddin Muhammad Ni’amatullah (1431 M) di Mahan, dekat kota Kirman, Barat Daya Iran. Pengikut aliran ini paling banyak dijumpai di Iran dan India.
ALIRAN TIJANI
Aliran ini didirikan oleh Syekh Abbad Ahmad ibnu al-Tijani, Aljazair (1815 M). Mulai dari Aljazair, aliran ini menyebar ke Selatan Sahara, Sudan Barat dan Tengah, Mesir, Sinegal, Afrika, Nigeria Utara bahkan sampai ke Amerika Barat dan Utara.
ALIRAN JARRAHI
Aliran ini didirikan oleh Syekh Nuruddin Muhammad al-Jarrah, Istambul (1720 M). San penyebaran aliran ini terbatas sampai Turki serta sebagian di Amerika Barat dan Utara.
ALIRAN CHISTI
Aliran sufi yang sangat berpengaruh di anak benua India dan Pakistan ini mengambil nama Khwaja Abu Ishaq Shami Chisti (966 M) sebagai pendirinya. Aliran ini menyebar terutama di daerah Asia Tenggara.
Sebagaimana gerakan-gerakan yang lain, secara alami, aliran sufi juga cenderung mengalami pasang surut. Secara umum, pasang surut itu terjadi antara dua sampai tiga ratus tahun setelah masa kebangkitannya — tepatnya, mulai berdiri, klimaks dan secara berangsur mengalami penurunan.
Salah satu trend yang nampak dalam sejarah alairan sufisme adalah, di mana terdapat kekurangan materi sumber Islam, baik Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi, maka, kecendrungan aliran sufi didominasi oleh budaya lingkungan yang lebih kuat dan tua. Percampuran ini sangat nampak pada aliran Chisti, di Asia Tenggara dan aliran sufi-sufi di Indonesia yang mengintegrasikan unsur-unsur budaya Hindu dan Budha dalam praktik-praktik mereka. Demikian pula, aliran-aliran sufi Afrika, seperti di daerah Sudan, yang mengintegrasikan adat agama suku Afrika dalam praktik-praktik mereka. Nampaknya, seluruh aliran sufi banyak mengambil warna yang beragam di daerah-daerah yang jauh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Blog Archive